Rabu, 11 September 2019

Cinta Datang karena Terbiasa



Judul : Dua Perempuan Tiga Lelaki
Penulis : Maria A. Sardjono
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, 2014
Tebal : 424 halaman
ISBN : 978-602-03-0990-3

Dalam kehidupan ini, seseorang pasti membutuhkan sosok sahabat karena peran sahabat sangat penting dalam menghadapi berbagai ujian hidup.  Bagi sebagian orang, mereka lebih mampu berekspresi dan terbuka dalam beberapa hal di depan sahabat daripada keluarganya. Sahabat merupakan orang yang sudah mengenal sifat baik dan buruk kita, selalu menemani dalam keadaan sedih maupun bahagia, dan yang akan memsupport kita dalam keadaan terpuruk.

Larasati, Nining, Joko, Aris, dan Lintang  sudah bersahabat sejak awal masuk SMA hingga setelah lulus kuliah persahabatan mereka tidak pernah lekang oleh waktu. Meskipun Larasati memilih untuk bekerja, Nining menikah, Joko kuliah di Australia, Aris menjadi dosen sambil kuliah S2, sedangkan Lintang bergelut dengan bidang seni sekaligus kuliah S2, persahabatan itu terus berlangsung saling mengasihi satu sama lain hingga membuat semua orang iri. Seiring berjalannya waktu hubungan Larasati dan Joko berubah menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai, bahkan mereka akan mengukuh dalam ikatan perkawinan.

Larasati berwajah jelita, berkulit halus, lembut gemilai, dan bertubuh proporsional. Terlepas dari pro dan kontra terhadap keberpihakan budaya patriarki pada kaum lelaki oleh orang tuanya Larasati dididik sedemikian rupa agar menjadi perempuan yang gesit, tegar, dan mumpuni (serba bisa), namun tetap memperlihatkan ciri perempuan yang dituntut oleh budaya patriarki. Luwes, lemah-lembut, peka, dan peduli terhadap sesama dan alam sekitar. (hal :7)

Berawal dari niat Joko untuk menikahi Larasati dan akan memboyongnya ke Australia untuk menemaninya berkarir.  Tak pelak hal ini membuat Larasati bimbang. Gadis itu sangat mencintai kota kelahirannya ini, tetapi di sisi lain dia juga sangat mencintai pria pujaan hatinya itu.

“Untuk apa aku susah-susah kuliah kalau untuk keberikan buat negara lain? Mereka sudah jauh lebih maju daripada kita kok.” (hal-29).

Akhirnya perang dingin antara Larasati dan Joko tak terelakan.  Mereka sama-sama memegang pada prinsip masing-masing.  Hingga di suatu pagi hal yang tidak pernah terlintas sedikit pun dalam benaknya terjadi.  Hal yang fatal yang hingga membuat hubungan pertunangan mereka kandas di tengah jalan.  Hingga akhirnya Larasati menemukan cinta sejatinya.

“Di antara kami berdua ada akar cinta yang tumbuh dari lubuk hati kami karena adanya witing tresno jalaran soko kulino (cinta yang tumbuh karena terbiasa  berada dalam kebersamaan), yang benar-benar teruji. Itulah kenyataannya.” (Hal. 371)

Buku ini sangat bagus untuk dibaca karena banyak pelajaran hidup yang bisa kita ambil. Bahwa ditinggal oleh kekasih bukan akhir dari segalanya, wajib untuk selalu berpikir realistis dan mampu berpegang pada rasio, bukan hanya pada perasaan. Meski ceritanya terkesan ringan tapi penulis sangat cantik mengemas konflik dan ending yang tak terduga.